The Cute Caterpillar

~ Jurnal 1, Pekan 1, Kelas Ulat-ulat, Bunda Cekatan.

Sudah pecah telurnya.

Saatnya kita makan besar, menuju pucuk.. pucuk.. pucuk.. #eh

***

Setelah empat pekan berjibaku mengerami telur-telur berwarna-warni, hijau untuk aktivitas yang membahagiakan, merah untuk skill yang mendukung hijau, orens untuk ilmu yang perlu diperdalam untuk meningkatkan kapasitas merah..

Berlanjut ke manifestasi pemetaan alur pikir dan pola belajar dalam rangka mencapai tujuan.

Besar, maunya. Tapi paling tidak, untuk dijalankan dan dilatihkan selama Bunda Cekatan dulu aja.

Sekarang saatnya kita mulai menetapkan jenis makanan apa yang akan dilahap selama perjalanan di the jungle of knowledge.

Dalam panduan 1, mamasiswa sudah menjabarkan–memang belum detail, insyaAllah akan direvisi secara berkala–daftar pengetahuan yang dimiliki, daftar pengetahuan yang ingin diketahui, dan camilan pengetahuan yang ditemukan di perjalanan.

Here’s mine.

Di pekan ini, selain daftar ilmu tersebut, mamasiswa juga diminta membuat camilan masing-masing sebagai potluck.

Saya menyuguhkan satu sumber ilmu dasar yang baru saya pelajari dalam subtopik Adab Sebelum Ilmu, “Panduan Lengkap Menuntut Ilmu”.

Ah.

Dalam perjalanan awal di pekan ini, saya menemukan beberapa camilan seru yang tersaji di pesta potluck.

  • Life by Design
  • Mindful Life
  • HSI bersama Ust.Abdullah Roy

Duhai, belum semua potluck dicicipi. InsyaAllah ini juga akan direvisi.

#AstamevaMenulis

End of Part One : The Eggs in a Basket

~ Jurnal 4, Pekan 4, Kelas Telur-telur, Bunda Cekatan.

Pekan ini akhirnya.

Setelah kontemplasi begitu lama. Bolak-balik memikirkan bagaimana sebaiknya.

Apakah menjalani satu-satu.

Atau sekaligus seperti keinginan yang biasanya.

Saya memutuskan, Keluarga Tumbuh dari sisi saya, akan Revive.

Bismillaah, semoga Allah kuatkan, semoga Allah mudahkan.

Dan untuk parade peta yang akan datang.

Here’s what in my mind, mapped..

Mind Map : Keluarga Tumbuh – Revive 2020

EoF

#AstamevaMenulis #BundaCekatan

The Reason Why, The Oranges to Get, and The Path to Take

~Jurnal 3, Pekan 3, Kelas Telur-telur, Bunda Cekatan.

Pekan ini dibawa lagi melanglang buana ke tiga tahun yang lalu.

Saat bingung menentukan kurikulum belajar yang “gue banget”, sampai harus menepi dulu, bertapa, melalui serangkaian perenungan dan konsultasi ~berkepanjangan~ panjang.

Ketemu sih.

Alhamdulillah.

Just because, I have to change!

Itu alasan utamanya.

Karena kalau ngga berubah, ya mau jadi apa atuh hidup teh, meuni asa gini-gini aja. Panjang ceritanya lah kalau dibahas mah.

Intinya, saya harus berubah.

Menjadi pribadi yang lebih baik, buat keluarga : orang tua, suami, dan anak-anak saya.

Terbaik, jika perubahan ini selaras dengan tujuan dan misi penciptaan yang Allah tetapkan atas saya.

*

Jadi berdasarkan bidang-bidang keterampilan yang harus dikuasai, jingga ini adalah untuk menentukan ilmu-ilmu apa saja terkait bidang tersebut, yang harus dipelajari.

Ada lima.

#1 – Agama / Ibadah

Meliputi tazkiyatun nafs, adab menuntut ilmu, minhajul muslim, teknis ibadah, ketauhidan, dan siroh nabawiyah.

#2 – Natural Prophetic Attachment Parenting

Meliputi komunikasi efektif-empatik-produktif, prophetic parenting, natural parenting, attachment parenting, dan teknis tumbuh kembang anak.

#3 – Manajemen Rumah Tangga

Meliputi manajemen waktu, meal planning, decluttering, dan family projects.

#4 – Home Education

Meliputi Fitrah Based Education, pendidikan rumahan, portofolio anak, dan talents mapping.

#5 – Blogging for Business

Meliputi kepenulisan, web development, marketing, dan social media.

*

Kenapa kok banyak banget?

Hehe, memang banyak yang harus dipelajari.

Terus terang, overwhelmed beberapa tahun belakangan juga sepertinya karena kebanyakan materi yang–rasanya–harus dipelajari.

Terus merasa waktunya sedikit, ngga cukup. Akhirnya, bukannya mencicil, malah menunda.

Then here I am, again.

Ya gitulah.

Kata Ibu Septi, harus ada prioritas.

Dan berdasarkan coret-coret, sudah ada prioritas. Sudah ada jadwal. Petanya sudah mulai tampak lebih jelas dibandingkan sebelumnya.

Tapi masih butuh waktu untuk merapikan.

Bismillaah..

Semoga bisa segera terlaksana.

~ Astameva untuk Bunda Cekatan

Revive 2020

A year from now, you will wish you had started today

Karen Lamb

Saya selalu membawa quote ini ke mana-mana.

Karena saya pikir, ini quote yang makjleb. Setiap kali membacanya, saya selalu tergerak untuk bergerak.

Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari, karena tidak melakukan apa-apa hari ini.

Quote ini menjadi semacam motivasi pribadi.

Termasuk setahun yang lalu; yang ndilalah-nya, membuat saya miris hari ini.

Karena sudah setahun setelahnya, nyatanya, saya tidak bergerak ke mana-mana. Dan ya, saya sangat berharap saya melakukan sesuatu saat itu.

Well, here we go again, now.

Membaca dan menuliskan quote yang sama. Berharap, kejadian hari ini, tidak terulang lagi tahun depan.

Ini mau tidak mau, suka tidak suka.

Karena blak-blakan, saat ini saya berada dalam posisi harus berubah. Harus naik. Tidak ada kemungkinan lain, tidak ada pilihan lain.

When you already hit rock bottom, the only way to go is UP.

unknown

Semoga tahun depan, tidak ada lagi penyesalan yang sama.

#fingerscrossed

*

Revive.

Itu tema besar visi tahun ini.

Dan resign. Hopefully. 😀

Karena meretrospeksi beberapa tahun belakangan: banyak proyek yang tertunda pelaksanaannya.

Mulai dari proyek pribadi, pekerjaan publik, sampai tugas utama keseharian.

Padahal ini terkait erat dengan visi resign.

Yang satu sangat bergantung pada yang lainnya. Dan begitu pula sebaliknya.

Then again, itulah kenapa harus revive.

Harus bangkit dari kondisi saat ini, untuk menjadi lebih baik. Secara pribadi dan kebermanfaatan diri.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan setiap langkah kami untuk berubah memperbaiki diri, berharap semata-mata atas ridho-Nya.

*

Satu hal lagi yang menjadi catatan..

Revive 2020 ini, terasa seperti sudah seharusnya.

Banyak materi pembelajaran yang saya pelajari sebelumnya, tiba-tiba klik begitu saja. Like everything is already in its places.

Mungkin ini memang waktu yang tepat yang Allah pilihkan untuk kami. Khususon untuk saya.

Ujian kenaikan kelas yang sesungguhnya.

Sehingga dengan ini, and with my head held high, saya menyatakan hari ini merupakan batu tolak perlombaan lari yang saya buat sendiri.

Dengan izin-Nya, insyaAllah, saya akan terus berlari sampai garis finish nanti.

Sekali lagi, semoga dilancarkan dan dimudahkan-Nya.

Aamiin.

***

~ Nisa Astameva, Ibu Beruang, Ummu Ananta

The Enlightenment, the Purposeful Activities, and the Potential Eggs

~Jurnal 1, Pekan 1, Kelas Telur-telur, Bunda Cekatan.

Deja vu.

Itu yang pertama kali terlintas di benak saya, kala menerima tugas tantangan pertama di pekan pertama pembelajaran Kelas Telur-telur, Bunda Cekatan, ini.

Bukan apa-apa.

Perihal menggali potensi kekuatan diri, ini sudah berlangsung berulang kali di Keluarga Tumbuh.

Mulai dari episode Matrikulasi ala-ala. Sampai rombak sana-sini berikut sesi konsultasi.

Tapi memang selalu mentok di tahap Eksekusi, sih..

Terutama yang terkait pelaksanaan jadwal harian. :nohope #curcol

But we can never let that, always like that. Can we?

Jadi menyelami lagi potensi kekuatan diri, guess what..

Allah yang Maha Merencana menjodohkan hidup baru ini dengan kesempatan yang sempurna, pikir saya.

Karena lagi-lagi, kami dihadapkan pada kondisi mengulang. Dan ini berarti, ulangan yang keempat kalinya.

Alih-alih merasa bosan, saya justru tercerahkan. Practice makes prefect, kan?

Ibaratnya, Allah mau kami menggosok mutiara terpendam, sampai kilaunya benar-benar kelihatan.

Yakin, belum? Mungkin itu yang ingin Ia pastikan.

So yeah, we’re on board. Kami ikut kereta ini.

Kelas Bunda Cekatan ini, akan menjadi sarana bagi kami mengafirmasi.

Semoga dalam perjalanannya, Allah lancarkan. Dan semoga dalam pelaksanaannya, Allah mudahkan.

InsyaAllah.

🌴

Dalam sebuah status WA, saya pernah menyinggung tentang betapa seseorang bisa dianggap multitalenta, karena segala apa-apa, dia bisa.

Ga pake mikir, ga pake lama.

Padahal ada juga orang-orang yang.. tidak tahu potensinya apa. Bahkan mungkin ia menganggap dirinya, tak bisa apa-apa.

Yang saya garis bawahi di status tersebut adalah..

Allah menciptakan setiap diri manusia, unik. Membekali segala potensi yang diperlukan, dalam perjalanan hidup menuju peran peradaban.

Jadi, setiap manusia memiliki potensi itu. Hanya saja, mungkin, mereka yang menganggap dirinya tak punya potensi, belum tahu.. apa potensinya.

Merangkum Fitrah Based Education, Talents Mapping, dan Pandu 45–yang keilmuannya kami masukkan ke kurikulum belajar Keluarga Tumbuh, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengenali potensi diri.

Salah satunya adalah mengamati aktivitas yang ditekuni dengan binar bahagia.

Yang biasanya berarti, aktivitas yang kita bisa dan kita suka. Dan yang jika ditarik lebih jauh maknanya, akan terkait dengan potensi diri yang telah Allah titipkan kepada kita.

Ragam aktivitas ini, harus dan akan senantiasa aligned dengan peran peradaban kita.. serta mengerucut pada alasan mengapa kita diciptakan.

Terlalu serius, ya?

Mohon maaf jika terkesan begitu, ya. Hehe..

Saya hanya ngga bisa membendung buncahnya isi hati dan benak saya, jika sudah membicarakan FBE dan segala materi turunannya..

Rasa-rasanya semua ingin saya tuliskan, bahkan ketika baru secuil ilmunya yang saya dapatkan. Terlebih saya berpikir, apalah saya ini, belum pandai mengungkapkan apa yang para Gurunda sampaikan.

Tapi entah kenapa, terkait topik ini, selalu membuat dada saya berdebar, kepengin sekali rasanya berbagi pemahaman atas ilmu yang sama kepada orang-orang di sekitar saya.

Wait. Apakah ini berarti..?

Ya, hehe..

Betul, betul, betul.. ini adalah salah satu aktivitas yang membuat saya bahagia. Gemetaran tangan, saking bahagianya. Berapi-api nada bicara saya, saat mengutarakannya.

Dan ya, menyampaikan ilmu yang saya pelajari dan saya akui kebenaran referensinya, binar itu tampak di mata saya.